Mungkin kedengarannya agak aneh dengan tema yang saya cantumkan
diatas, tapi itulah realitanya bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua di
Negaranya sendiri yaitu Indonesia. Mengapa terjadi demikian?.
Kita sebagai warga Negara Indonesia seharusnya kita peka terhadap
Negara kita sendiri. Mengapa realita tersebut terjadi? Karena warga Negara
Indonesia mempunyai banyak suku. Dimana setiap suku tersebut mempunyai bahas
sendiri-sendiri. Dilihat dari realita seperti yang seperti itu warga Indonesia
lebih mementingkan, mencintai dan bahakan menjunjung tinggi bahasa sukunya
sendiri dari pada bahasa Nasional mereka yaitu bahasa Indonesia. Sekarang kita
bandingkan dengan negara-negara lain misalnya : Negara Amerika, Inggris,
Jepang, Jerman, dalam berkomunikasi negara-negara tersebut menggunakan bahasa mereka sendiri dan menjunjung tinggi
bahasa mereka, dan masih banyak lagi negara-negara yang dalam berkomunikasi
menggunakan bahasa mereka sendiri, karena mereka lebih mementingkan integrasi
atau persatuan. Dan dengan adanya sebuah integrasi atau persatuan tersebut,
negara mereka bisa menjadi lebih maju dalam segala aspek kehidupan dari pada
negara kita yang lebih mementingkan bahasa-bahasa sukunya dari pada bahasa Nasional
kita yaitu bahasa Indonesia. Dari
permasalahan itu sudah kelihatan sekali bahwasannya Negara Indonesia tidak
berpartisipasi dalam menjunjung negaranya sendiri untuk lebih maju seperti
negara-negara lain yang sangat mementingkan integrasi atau persatuan. Apabila
negara Indonesia tidak menjunjung tinggi bahasa nasional mereka maka, akan
berdampak negatif bagi warga negara Indonesia dan juga terhadap kemajuan bagi
negara Indonesia, misalnya terpecahnya suku-suku yang ada di negara Indonesia,
sehingga negara Indonesia nenjadi negara yang memisahkan diri atau terpecahnya
suku-suku yang ada di Negara Indonesia. Dengan demikian Negara Indonesia
menjadi negara yang tertinggalkan oleh negara-negara lain yang sudah mencapai
puncaknya dalam segala aspek.
Bahasa Indonesia adalah bahasa melayu yang dijadikan sebagai bahasa
resmi di Negara Republik Indonesia dan bahasa persatuan bagi bangsa Indonesia.
Penanaman Bahasa Indonesia itu sendiri di resmikan setelah di umumkannya sumpah
pemuda yang dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 1945. Dan sejak itu pula
Bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan Bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia
sangat di gunakan dalam perguruan-perguruan, media massa, surat menyurat dan
masih banyak lagi, sehingga dapat disimpulkan bahwa Bahasa Indonesia adalah
bahasa yang di gunakan oleh warga Indonesia. Tetapi dengan banyaknya suku-suku
di Indonesia munculah berbagai macam ragam bahasa di Indonesia, sehingga Bahasa
Indonesia yang di tetapkan sebagai Bahasa Nasional Negara mereka di nomor
duakan dan warga Indonesia dalam berkomunikasi menggunkan bahasa suku-suku
mereka dan menjadikan bahasa sukunya lebih utama dari pada Bahasa Nasional
mereka sendiri. Mengapa demikian? Karena dengan mereka menggunakan bahasa
suku-sukunya, mereka akan lebih mudah dalam melakukan komunikasi antara satu
dengan yang lain dalam satu suku. Setiap suku-suku tersebut mengahasilkan
sebuah kebudayaan yang menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Yang
diantaranya menciptakan sebuah bahasa-bahasa yang digunakan dalam melakukan
komunikasi dalam sukunya tersebut. Meskipun Negara Indonesia mempunyai berbagai
macam suku dan berbagai macam budaya yang mengahasilkan berbagai macam bahasa,
Negara Indonesia tetap satu juga.
Dan meskipun Bahasa Indonesia telah dipahami dan di ajarkan oleh
warga Indonesia tetapi Bahasa Indonesia bukanlah bahasa yang banyak penuturnya.
Warga Indonesia serimg kali dalam komunikasinya menggunakan bahasa penutur
(bahasa ibu) atau dengan bahasa melayu. Di Negara Indonesia ini mempunyai
beragam jenis suku-suku daerah. Dan disetiap daerah meiliki perbedaan bentuk
bahasa yang sangat beragam sekali atau sering disebut dengan Bahasa Daerah.
Bahasa Daerah ini mempunyai peran yang sangat penting dalam berkomunikasi.
Dengan ini bisa mempermudah warga antar suku untuk berinteraksi antar satu
dengan yang lain. Di Indnesia mempunyai banyak macam bahasa daerah atau suku
yang hanya dapat di mengerti oleh penduduk suku itu sendiri sebagai alat
komunikasi sehari-hari antar penduduk suku tersebut. Oleh karena itu, sebagai
pemersatu dalam suatu perbedaan bahasa di setiap suku maka Bahasa Indonesia
termarginalisasi.
Dalam penggunaan Bahasa Indonesia misalnya si Reni dengan si Ali
mereka sama-sama orang sunda dan setiap kali bertemu mereka selalu berbicara
menggunakan bahasa sunda sebagai bahasa komunikasi mereka. Dan suatu ketika
Reni mempunyai teman yang berbahasa daerah lain misalnya dengan bahasa madura,
pasti mereka akan kesulitan apabila mereka menggunakan bahasa daerah mereka
masing-masing.Untuk mempermudah dan memperlancar dalam berkomunikasi mereka
menggunakan bahasa Nasional mereka yaitu Bahasa Indonesia. Dari urain yang saya
jelaskan di atas Bahasa Indonesia merupakan Bahasa pemersatu Yang mampu
menyatukan segala macam perbedaan seorang
yang semestinya tidak mengerti dia mampu memahami dengan adanya bahasa. berarti
bisa kita artikan bahwa sebuah bahasa mampu memgungkapkan maksud seseorang
tanpa melalui sebuah alat peraga. Jadi sangat pentinglah sebuah bahasa ada pada
suatu komunitas untuk mengantarkan maksud seseorang di dalam mencapai
tujuannya. bayangkan saja seandainya tidak adanya suatu bahasa apakah sebuah
interaksi akan menjadi tentulah pasti akan kesulitan dalam mengartikan tujuan
yang di maksud. Seseorang yang tidak bisa mengungkapkan keinginannya lewat bahasa
mereka cenderung mengunakan peraga lewat anggota tubuhnya seperti penderita
tuna wicara mereka mengungkapkan segala yang ia inginkan dengan tindakan tidak
dengan suara namun kejelasan serta penangkapan seseorang tidak semudah apabila
mengunakan suara lewat bahasa.
Setiap bangsa memiliki bahasa nasional yang berbeda-beda contohnya
saja negara inggris mengunakan bahasa nasional dengan bahasa inggris namun
semua itu tidak mengurangi makna dari bahasa itu sendiri manfaat dan tujuannya
pasti sama sebagai alat komunikasi jadi tidak ada bedanya antara bahasa negara
satu dengan bahasa negara lain yang membedakan hanyalah dari segi pelafalannya.
Apabila kita menginginkan mengunjungi negara lain maka kita harus menguasai
bahasa nasional yang ada pada negara itu, karna tanpa kita mengetahuinya kita
tidak akan mampu beradaptasi di sana karna pemahaman bahasa mereka dengan kita
sudah tentu berbeda beda lagi kalau mereka juga mengerti bahasa nasional kita.
Sangat pentingnya sebuah bahasa sehingga dalam kehidupan sehari-hari
pun kita tidak dapat di pisahkan dari bahasa baik suara maupun lewat tindakan.
Bagi seorang yang tidak mengerti sebuah bahasa dia akan tertinggal dengan
perkembangan zaman yang semakin maju buktinya saja sekarang banyak alat-alat
buatan manusia mampu mengeluarkan bahasa bahkan bisa menyerupai suara manusia,
hewan dan lain-lainnya.
Bahasa indonesia sebagai bahasa ke dua sangatlah wajar karena
kebudayaan atau kebisasaan yang ada di suatu komunitas itu lebih besar
pengaruhnya terhadap keadaan jiwa seseorang maka dari itu bagi seorang yang
dari pulau jawa mereka lebih dominan menggunakan bahasa jawa dari pada bahasa
indonesia karna di sebabkan kebiasaan yang tumbuh di lingkungan yang dia
tempati. Namun bagi mereka masih mampu mengetahui bahasa indonesia karna bahasa
itu adalah bahasa nasional pemersatu negara mereka. Walaupun di daerah
terpencilpun pastinya mengenal bahasa indonesia karena setiap orang di dalam
negara mempunyai kewajiban untuk mengetahuinya sehingga tercermin di setiap
lembaga pendidikan pasti ada pelajaran bahasa indonesia, misalnya dalam sebuah
perguruan tinggi, sekolah-sekolah, media massa dan masih banyak lagi. Berbeda dengan
negara-negara lainnya, mereka sangat menjunjung tinggi bahasa mereka dan
menggunakannya di setiap saat dan di manapun mereka berada dan dalam hal apapun
mereka menggunakan bahasa mereka karena mereka sangat mengutamakan integrasi.
Sebagai contoh lain seorang anak yang tinggal di Yogyakarta mempelajari bahasa
Jawa sebagai bahasa pertama yang diajarkan orangtuanya, kemudian saat memasuki
bangku sekolah anak tersebut mendapat pengajaran bahasa Indonesia di sekolah,
maka dalam hal ini bahasa Indonesia dapat dikatakan sebagai bahasa kedua si anak tersebut.
Bahasa kedua
adalah bahasa yang dipelajari secara sistematis dan berencana bukan diperoleh
secara alamiah seperti bahasa pertama. Dan yang dimaksudkan dengan bahasa kedua
ini adalah Bahasa Indonesia yang menggunakan kata baku. Dengan demikian bahasa
Indonesia baku bukanlah bahasa pertama yang di gunakan oleh anak-anak sekolah,
melainkan bahasa indinesia baku itu adalah bahasa kedua yang mereka gunakan. Seorang
guru dalam melakukan proses pembelajaran haruslah menggunakan bahasa kedua
untuk melatih peserta didik dalam proses pembelajaran. dalam masyarakat multilingual tentu akan ada pengajaran bahasa
kedua (dan mungkin ketiga). Bahkan bahasa kedua ini bisa juga dikatakan dengan
bahasa nasional, bahasa resmi negara, dan juga bahasa resmi kedaerahan. Di
Negara Indonesia pada umumnya bahasa Indonesia adalah bahasa kedua yang
berstatus sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi kenegaraan. Dan terdapat
sebuah motivasi dalam belajar bahasa kedua bahwa jika kita mau belajar suatu
bahasa kedua, maka yang diperlukan adalah adanya dorongan, keinginan, atau
tujuan yang hendak dicapai. Ini akan berbeda jika dibandingkan dengan orang
belajar bahasa tanpa adanya suatu dorongan, keinginan, serta tujuan atau
motivasi. Jadi, pada dasarnya motivasi dalam pembelajaran bahasa berupa
dorongan yang datang dari dalam diri masing-masing anak yang menyebabkan mereka
memilki keinginan yang kuat untuk
mempelajari bahasa kedua.
Bahasa
Indonesia merupakan
bahasa dinamis yang
hingga sekarang terus menghasilkan
kata-kata baru, baik
melalui penciptaan, maupun
penyerapan dari bahasa
daerah dan asing. Dasar-dasar yang penting untuk berkomunikasi dapat
dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu saja. Bahasa Indonesia
merupakan bahasa yang digunakan sebagai bahasa pengantar pendidikan
perguruan-perguruan atau di sekolah-sekolah. Kondisi yang saling
ketergantungan antara satu negara dengan negara lainnya menjadikan penguasaan
bahasa kedua menjadi sesuatu yang sangat penting saat ini. Kita perlu
mempelajari bahasa kedua untuk kepentingan pendidikan, pariwisata, politik dan
ekonomi. Pada pembelajaran bahasa kedua, siswa harus sudah menguasai bahasa
pertama dengan baik dan perkembangan pembelajaran bahasa kedua tidak seiring
dengan perkembangan fisik dan psikhisnya. Dalam pembelajaran bahasa kedua
dilakukan secara formal dan motivasi siswa pada umumnya tidak terlalu tinggi
karena bahasa kedua tersebut tidak dipakai untuk berkomunikasi sehari-hari di
lingkungan masyarakat siswa tersebut. Tetapi bahasa kedua itu di pakai saat
mereka melakukan komunikasi di sekolah. Pentingnya pembelajaran bahasa kedua
yang dilatarbelakangi oleh berbagai aspek, membuat seseorang mempelajari bahasa
kedua. Proses dalam pembelajaran bahasa kedua tersebut dipengaruhi oleh
penggunaan bahasa ibu atau bahasa daerah tertentu. Kemudian proses pembelajaran
bahasa kedua tersebut dimulai dari proses pembelajaran formal maupun dari
lingkungan. Lingkungan informal memiliki hubungan yang erat terhadap proses
penguasaan bahasa kedua. Dengan proses analisis data bahasa yang masuk sebagai
masukan dalam pembelajaran bahasa kedua dapat diangkat sebagai pengetahuan
linguistik yang sebelumnya tidak diketahui pada saat pembelajaran. Pengetahuan
linguistik ini didapat dengan cara mengakaji dan menguji berulang-ulang tentang
kebenaran pengetahuan linguistik dengan bahasa sasaran. Sehingga proses
pemerolehan dapat menghasilkan pengetahuan linguistik yang dapat dipakai
sebagai monitor. Berdasarkan hal tersebut, tampak bahwa lingkungan informal
berperan dalam pemerolehan bahasa kedua. Lingkungan informal dapat berperan
sebagai masukan pada pemerolehan bahasa seseorang. Kemudian Bahasa teman sebaya
juga memiliki pengaruh besar dibandingkan bahasa bahasa orang tua. Anak-anak
akan lebih banyak mempelajari perilaku bahasa dari teman-temannya daripada dari
orang tuanya. Setiap orang berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang-orang
disekitarnya. Pada tahap pemerolehan bahasa keduanya, bahasa yang digunakan
oleh orang-orang disekitarnya memiliki peran yang cukup penting. Lingkungan
orang tua juga tampaknya hanya terbatas, dilingkungan keluarga terhadap
pemerolehan bahasa pertama. Sedangkan untuk pembelajar dewasa, kekuatan bahasa
ini semakin berkurang, lebih-lebih bila dihubungkan dengan pemerolehan bahasa
kedua. Belajar bahasa secara alami akan memperlihatkan hasil kemampuan
berbahasa yang lebih baik daripada melalui lingkungan formal yang lebih
menitikberatkan pada pemerolehan bahasa secara sadar tentang aturan-aturan
bahasa ataupun pemakaian bentuk formal linguistik. Bahwa cara pembelajar
berkomunikasi, baik komunikasi satu arah, komunikasi dua arah terbatas maupun
penuh, sangat berpengaruh pada pemerolehan terhadap pembelajaran bahasa kedua.
Dalam komunikasi satu arah, pembelajar hanya membaca atau mendengar bahasa
kedua, tetapi pembelajar tidak dapat merespon. Dalam komunikasi dua arah
terbatas pembelajar akan mendengar bahasa kedua, kemudian memberikan respon
secara nonverbal atau tidak menggunakan bahasa sasaran. Dari hal ini dapat
dilihat betapa pentingnya lingkungan dalam hal proses pembelajaran bahasa yang
memberikan masukan bahasa kedua, yang memungkinkan pembelajar mampu
berkomunikasi dua arah penuh. Tentunya hal ini terjadi secara bertahap. Adanya
acuan bahasa yang konkret juga harus diperhatikan dalam proses berbahasa.
Pengajaran bahasa Indonesia dapat dilihat dari dua
perspektif, yaitu bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama dan bahasa kedua. Ini
membuktikan bahwa Indonesia kaya akan budaya. Salah satu unsur budaya yang
dicetuskan oleh Koentjaraningrat yaitu bahasa. Indonesia memilki banyak bahasa
daerah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Dari dasar ini, posisi bahasa
Indonesia yang secara politis merupakan bahasa negara dan bahasa pemersatu
bangsa memilki peran yang sangat startegis di samping mempertahankan
bahasa-bahasa daerah. Dalam bahasa pertama, seringkali terdapat di kota-kota besar
seperti Jakarta, Surabaya, dll. Sedangkan pada daerah-daerah lain masih bisa
mempertahan bahasa daerahnya. Setidaknya terdapat beberapa pendekatan yang
menunjang pemerolehan bahasa pertama. Sedangkan, untuk pengajaran bahasa
Indonesia sebagai bahasa kedua terdapat faktor-faktor penentunya. Proses
belajar-mengajar bahasa, baik bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama maupun
bahasa kedua, perlu diperhatikan beberapa variabel, seperti yang bersifat
linguistik maupun yang bersifat nonlinguistik yang dapat menentukan
keberhasilan dalam proses mempelajari bahasa. Kedua variabel tersebut bukan
merupakan hal yang terpisah atau berdiri sendiri-sendiri, melainkan merupakan
hal yang saling berhubungan, berkaitan, serta berpengaruh. Dengan demikian,
bahasa Indonesia kelak menjadi bahasa yang sangat dikagumi dan menjadi bahasa
yang berjaya di rumah sendiri serta disegani oleh bangsa-bangsa lain seperti
pada awal-awal kemerdekaan Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar